India Larang PUBG, Bagaimana Jika Mobile Legends Juga Dilarang?

India menjadi negara yang baru-baru ini memberikan larangan untuk memainkan PUBG Mobile dengan alasan isu keamanan dunia digital. Memang, isu ini menjadi salah satu bahasan yang menarik dalam beberapa waktu belakangan, mengingat gim ini adalah salah satu yang populer dan memiliki banyak penggemar di dunia nyata.

Namun demikian, apa jadinya jika kejadian ini terjadi pada salah satu gim populer lain di dunia, yakni Mobile Legends. Salah satu artikel yang tayang di Mojok.co sempat menyebut bahwa komunitas merupakan salah satu sumber dosa yang paling tinggi di gim Mobile Legends.

Baca juga: PUBG Corporation Turun Tangan Atasi Masalah Di India

Banyak pemain yang turun andil di gim tersebut, mulai dari pemain yang sehari-harinya melakukan rank hingga pemain yang berkategori pro-player.

Selain itu, ada banyak anak di bawah umur yang memainkan gim ini, tanpa disertai dengan konsekuensi yang muncul dari keyboard dan mulutnya, yang terkadang membuat siapapun yang mendengarnya marah. Kendati demikian, dalam artikel yang ditulis oleh Nurfathi Robi dalam laman yang sama menyebut beberapa alasan yang membuat para pemain gim Moba ini pensiun dari permainan, seperti berikut.

Syarat Ketentuan Karet

Menjadi salah satu elemen penting dalam setiap aplikasi, syarat dan ketentuan atau kerap disebut sebagai end-user license agreement (EULA) atau syarat dan ketentuan adalah hal yang maha penting.

Namun demikian, kerap kali para pemain gim mengabaikannya dan tanpa membaca kemudian mereka memberikan tanda contreng di tempat yang disediakan. Padahal, jika ditelaah lebih lanjut, hal ini berisi kesepakatan antara pengembang gim dan pengguna, tentang apa yang boleh dan tidak boleh .

Dalam gim Mobile Legends Bang Bang, EULA yang ada adalah sesuatu yang karet atau bisa ditarik ulur, padahal dalam sebuah kondisi, Moonton selaku pengembang gim bisa mematikan akses ke Mobile Legends tanpa pemberitahuan.

Baca Juga: Cara Ikut Mobile Legends Bang-Bang Championship League, Dari yang Gratis Sampai Berbayar

Tentunya, poin ini menujukkan bahwa pengembang gim bisa sewenang-wenang mengotak-atik akun yang tengah kita mainkan.

EULA yang digunakan oleh Moonton berdasarkan pada hukum yang berlaku di Republik Rakyat China, dengan isi “By visiting or using the the Service, you agree that the laws of The People’s Republic of China, without regard to principles of conflict of laws and regardless of your location”.

Memang nampak aneh jika melihat kondisi ini, tetapi hal ini juga terjadi manakala melakukan transaksi melalui Steam dan Google yang dikenakan PPN.

Ini menujukkan bahwa mereka menghormati hukum yang dilakukan di negara setempat.

Mengekspose Privasi

Memang terkadang bermain gim bisa mengekspose atau membuka banyak privasi seseorang, misalnya adanya sistem leaderboard yang diterapkan oleh Moonton. Sistem yang satu ini tentu revolusioner karena kita bisa saja bersaing dengan tetangga dan rekan sepermainan.

Baca: India Larang PUBG, Popularitas Empat Game Ini Kena Imbas

Namun, risiko ini sangat besar karena Moonton tak memberikan jaminan dari segi keamanan.

Kebijakan Letoy

Komunitas mobile legend kini kerap kali memanfaatkan layanan VPN untuk mencari skin atau tambahan yang gratis untuk hero di mobile legends. Memang, terjadi perdebatan di antara mereka yang sepakat dan tidak soal cara ini, namun Moonton sebagai pengembang gim memilih untuk diam saja.

Skin sendiri terkadang didapat melalui prestasi dan prestis, selain juga bisa dibeli menggunakan dana pribadi. Selain itu, pelengkap yang satu ini juga digunakan untuk merepresentasi waktu dari seorang pemain menguasai.

Jika skin didapatkan secara cuma-cuma, tentu tak ada lagi sentuhan untuk mendapatkan prestasi, seperti apa yang sejak awal digarap oleh Moonton dengan baik.

Skin epic yang seharusnya bisa didapatkan secara eksklusif, atau bisa didapat dalam periode tertentu bisa dijual lagi di masa yang lain.

Suka berita ini? Share yuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *