Inilah Penjelasan CEO Alter Ego, Terkait Banting Kamera

Akhir perjalanan Grand Final MPL Season 6, yang mempertemukan antara Alter Ego dan RRQ, syarat akan emosi. Dimana setiap tim memiliki misi yang berbeda beda, RRQ berusaha untuk mempertahankan tahtanya. Sedangkan Alter Ego, berusaha mengukir sejarah dengan menjadi tim Underdog yang berhasil menjadi juara MPL. Namun seperti yang kita ketahui, Alter Ego gagal mewujudkan misinya, dan RRQ berhasil menjuarai MPL ini secara berturut turut.

Pada akhir pertandingan, ketika kamera menyorot kedua tim, terdapat momen dimana kamera dari tim Alter Ego tiba tiba tertutup dan mati. Banyak para netizen, yang menganggap bahwa tim Alter Ego tidak sportif, dengan menutup membanting kamera sebagai bentuk kekesalan atas kekalahan yang mereka terima. Sehingga pada saat itu, kolom komentar banjir oleh para netizen yang menanyakan hal tersebut.

Baca Juga : Akankah MPL Season 7 Slot Tim Akan Bertambah?

Setelah kejadian tersebut, akhirnya CEO Alter Ego, “Delwyn” , pada streaming Udil di akun Nimo TV nya menjelasakan terkait permasalahan tersebut. CEO Alter Ego tersebut mengklarifikasi, bahwa kamera yang menyorot tim Alter Ego, sesaat setelah laga usai bukanlah dibanting. Serta bukan dari bentuk kekesalan atas kekalahan mereka. “Ko Delwyn” menjelaskan bahwa dia ingin melindungi privasi anak asunya, yang kala itu memang sedang dirundung rasa kekecewaan berat. Setelah kalah dari melakoni laga yang cukup berat, hingga sepanjang  41 menit.

Sumber : YT Ghibah Gaming

“Ko Delwyn” merasa hal ini adalah sebuah bentuk privasi, yang tidak seharusnya dapat dilihat publik. Dia pun menjelaskan, bahwa sebelumnya sudah meminta izin kepada pihak penyelenggara, dalam hal ini perwakilan dari MPL di tim Alter Ego. Untuk menanyakan apakah diizinikan untuk sementara, menutup kamera yang sedang menyorot pemain, dan diberikan izin oleh panitia. Sehingga kamera bukan dibanting, tetapi diarahkan kebawah, dan tidak menyorot Celiboy dan kawan kawan.

Memang banyak yang menganggap hal sederhana ini kontroversial. Menganggap tidak sportif, dan rasa tidak menerima kekalahan. Namun, sebenarnya hal sederhana ini tidak sepatutnya dibesar besarkan. Mengingat pasca pertandingan pun, semua menjadi hak masing masing setiap tim. Seperti ketika pada laga offline, setelah laga, setiap tim memberi salam sportifitas kepada musuh, dan bisa bebas keluar dari venue.

Baca Juga : Hanya Beri Hiburan, Valkyrie48 Tutup Kuping Jika Diejek Penggemar Esports

Menurut kalian, apakah masalah ini sebuah hal yang tidak profesnional? Atau kalian punya pendapat sendiri? Tulis di kolom komentar ya

Suka berita ini? Share yuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *